Bertekun dalam Hidup Rohani

Bertekun dalam Hidup Rohani

Pendidikan rohani dan karakter tetap menjadi pokok perhatian sekolah-sekolah di bawah naungan Penyelenggaraan Ilahi. Kelas 6 SD Marsudi Utami Tahun ini  melalui kegiatan retret 7 – 8 Maret, di Griya Paseban Semarang, mendalami tema “Who am I”, sebagal salah satu upaya ke arah itu. Melalui langkah-langkah dinamika kelompok, tugas dan refleksi pribadi, setiap siswa dilatih mengenali diri sendiri. Berangkat dari latar belakang kultur keluarga yang berbeda-beda, jenis kelamin sebagai anak laki-laki dan perempuan, masing-masing dianugerahi kemampuan, daya, dan kehendak untuk berkembang. Dinamika Kelompok retret kali ini, mengajak setiap anak mengekspresikan diri. Menggambar potret diri, menuliskan data diri, melatih keberanian menerima apa yang ada. Tak ada keluarga yang sempurna, tak ada pribadi yang hanya memiliki kekurangan atau kelebihan saja. Semua terkombinasi dengan sangat indah dan menarik. Ketika anak diajak memasuki diri sendiri yang dilengkapi dengan berbagai kemampuan, ia akan terkejut betapa banyak yang ia temukan sebagai rahmat kehidupannya. Sebaliknya hal-hal yang pahit, keluarga yang tak seideal yang mereka harapkan, melatihkan rasa syukur. Bersyukur atas masa-masa yang sulit yang dihadapi, sebab melalui itulah setiap anak akan bertumbuh menjadi lebih dewasa. Bersyukur tentu saja dimaksudkan dalam konteks manusia beriman bahwa Allah adalah baik. Ia punya rencana sangat hebat untuk setiap pribadi meski jalannya berliku dan mendaki. Diharapkan melalui aktivitas ini yang terintegrasi dengan aktivitas lain di sekolah, diharapkan akan terbentuk identitas diri. Yaitu semacam titik pertemuan atau persimpangan antara kekuatan dari dalam dan kekuatan dari luar diri seseorang yang membuat seseorang menjadi dirinya. Tentu saja penemuan diri yang otentik akan memberi kebahagiaan yang mendalam. Kebahagiaan akan mendorong seseorang hidup berbagi, peduli, penuh belas  kasih pada orang lain. dan itulah salah satu tujuan...
Sekolah-sekolah Kebon Dalem: 75 Tahun Misi Khas di tengah Kampung Kota Pecinan

Sekolah-sekolah Kebon Dalem: 75 Tahun Misi Khas di tengah Kampung Kota Pecinan

Kampung Kota   Kampung kota bisa diartikan sebagai suatu permukiman yang tumbuh di kawasan urban. Dalam banyak kasus seringkali yang terjadi adalah tanpa perencanaan infrastruktur dan jaringan ekonomi kota. Dalam kampung kota yang padat terdapat berbagai masalah yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan kondisi sosial budaya ekonomi penduduknya. Di kampung kota, sarana seperti air bersih, MCK, Listrik, dan berbagai prasarana lingkungan seringkali tidak tersedia dengan baik. Kampung kota juga tidak memiliki fasilitas-fasilitas seperti peribadatan, sekolah, puskesmas, balai pertemuan, dan lapangan olahraga selain itu jalan-jalan kampung umumnya sempit dan tidak diperkeras. Sebagian besar wilayah kota-kota besar di Indonesia ditempati oleh pemukiman tidak terencana, tempat tinggal kebanyakan kaum migran ke kota yang dinamakan kampung. Satu kampung biasanya terbentuk dengan pertumbuhan penghuni sedikit-demi sedikit dan tidak melalui kedatangan banyak orang sekaligus. Karena kampung-kampung ini tidak direncanakan dan sering berpenduduk padat (sampai 900 orang tiap ha), betapa pun tanahnya dibagi-bagi lagi, prasarana tetap tidak memadai; jalan dan gang sempit sekali, becek, tidak diaspal, sarana jamban sama dengan di daerah pedesaan, air bersih tidak ada, sekolah, pusat kesehatan dan pelayanan untuk masyarakat serta lapangan untuk bermain atau rekreasi tidak ada, serta penampilannya kurang ‘cantik’ memberikan efek visual yang tidak baik. Memang salah satu ciri khas kampung-kota ini adalah kemiskinan dan buruknya kualitas hidup. Namun di sisi lain kampung-kota mewakili suatu budaya bermukim yang memberi warna dan aktifitas khas perkotaan di Indonesia. Bagaimana pun  komunitas ini secara potensial memiliki konsep sendiri tentang rumah di tengah kehidupan modern, konsep lahir dari perjuangan `mempertahankan hidup’ (survival) masyarakat tradisional agraris di tengah kultur modern perkotaan. Hal ini dalam modus arsitektural bisa dipandang menjadi suatu potensi sebagai produk arsitektur...
Setetes Darah untuk Kemanusiaan

Setetes Darah untuk Kemanusiaan

13 November 2012, bertempat di Gedung Xaverius Jl. Gang Pinggir 62 Semarang, dilakukan gerakan donor darah. Tarekat Suster Penyelenggaraan Ilahi yang kali ini dimotori YPII Kantor Cabang Semarang bekerja sama dengan PMI Kota Semarang, dalam rangka 170 Tarekat, mencoba membangunkan kesadaran kita akan indahnya berbagi kehidupan. Gerakan ini kiranya menjadi awal aksi-aksi kemanusiaan selanjutnya yang sekaligus melatih kesadaran dan kepekaan pada para siswa PI untuk berbuat sesuatu bagi kehidupan manusia yang lain. Ajakan ini disambut baik oleh rekan-rekan kerja di lingkungan YPII Semarang, bahkan beberapa orang tua murid ikut bergabung di hari itu. Untuk mendonorkan darah setidaknya kita sendiri dalam keadaan aman, tidak sedang sakit bahkan minum obat generik sekalipun. PMI Kota Semarang menyebutkan, setidaknya Semarang membutuhkan 2000-an kantong darah setiap bulannya. Jumlah ini masih jauh di bawah kemampuan PMI menjaga persediaan tetap terjamin. Gg. Pinggir 62, di masa awal kemerdekaan sempat dua tahun menjadi salah satu markas PMI. Maka, tak berlebihan bila napak tilas 170 tahun Tarekat PI tahun ini, menunjuk kembali Gg. Pinggir 62 sebagai salah satu komunitas para suster PI menjadi posko gerakan kemanusiaan ini. Setetes darah kita adalah perpanjangan nyawa bagi...
Penanaman Sejuta Satu Pohon

Penanaman Sejuta Satu Pohon

“Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai,” demikian kata pepatah. Bencana alam khususnya banjir dan tanah longsor yang kian marak akhir-akhir ini, tidak semata karena curah hujan yang tinggi. Perilaku manusia yang mau atau tidak bersahabat dengan alam, sangat mempengaruhi pola datangnya bencana. Artinya, ketika manusia berperilaku seenaknya sendiri, egois alih-alih merasa mempunyai hak hidup atas tanah negeri ini, justru melakukan tindakan pengrusakan alam, hasilnya adalah bencana  di kemudian hari yang dibuat manusia sendiri. Pembangunan kota besar yang tak menghayati semangat eco friendly, rawan diserbu banjir besar.  Kebutuhan ekonomi manusia yang hanya berpusat pada pembangunan infrakstruktur untuk bisnis semata tanpa mentaati peraturan yang ada hanya akan membuat bencana kemanusiaan yang besar bertahun kemudian. Yayasan Penyelenggaraan Ilahi Indonesia cabang Semarang, memberi perhatian khusus pada pengembangan kawasan lindung melalui penanaman pohon. Dalam rangka 170 tahun tarekat Suster Penyelenggaraan Ilahi, 17 Desember 2012 yang lalu, para guru, siswa dan karyawan YPII di lingkungan Cabang Semarang, beramai-ramai menanam pohon keras di Penadaran Purwodadi. Tak kurang dari 7 bis membawa rombongan. Bekerja sama dengan masyarakat setempat, di bawah sinar matahari yang cerah bahkan cenderung terik, tak surut langkah PASUKAN HIJAU ini bermimpi menyejukkan kawasan gersang ini dengan pohon mangga, sirsak, dan berbagai pohon lain. Jika kita merasa berhak hidup sehat, kita pun wajib menjaga dan melestarikan lingkungan kita. Mulai hari ini menanam satu pohon untuk lestarinya kehidupan planet bumi kita....
Dirgahayu Indonesia Mengisi Kemerdekaan

Dirgahayu Indonesia Mengisi Kemerdekaan

Kamis, 16 Agustus, di halaman SD Kebon Dalem Semarang, tiga perempuan kecil tampak serius berlatih mengibarkan bendera. Besok adalah peringatan tahun ke-67 kemerdekaan Indonesia. Seperti layaknya, lomba-lomba memeriahkan peringatan itu, ramai diselenggarakan. Yang tak terduga, justru lomba Pengibaran Bendera adalah lomba yang paling diminati anak-anak itu. Tak hanya mereka yang terpilih mewakili kelas, beberapa anak lain ikut  berlatih  seolah akan bertugas. Tak ada raut main-main di wajah mereka. Kesungguhan jelas terlihat. Saat langkah belum padu, mereka mengulangnya lagi dan lagi, meski mentari kian terik menyengat kulit. Dalam benak sederhana mereka, apakah arti kemerdekaan itu? Apa arti Merah Putih, berbangsa satu, bangsa Indonesia? Dalam keterbatasan kanak-kanak mereka yang terekam kuat masih sebatas bagaimana menghargai lambang-lambang negara, meniru gagahnya langkah para pejuang meraih kemerdekaan RI dengan pengorbanan darah, bahkan nyawa, seperti yang mereka baca di buku-buku sejarah nasional di kelas. Mungkinkah tentang kesungguhan mengisi kemerdekaan, semestinya kita belajar pada anak-anak sekolah? Karena bila kita mau jujur, di kalangan orang dewasa justru yang tampak adalah pengkhianatan, kalau belum boleh dikatakan kegagalan mengisi kemerdekaan. Pengkhianatan lewat perbuatan korupsi, kekerasan dan pertikaian atas dasar perbedaan (apapun), sumpah serapah dan ugal-ugalan di jalan-jalan raya, ketidakhormatan pada mereka yang kalah dari budaya hedonis ini. Mulai dari politisi, hingga orang biasa, cermin yang dipantulkan masih jauh dari layak diteladan. Bila esok pagi, dan esok-esok yang lain pada 17 Agustus, kita punya waktu sedikit saja, baik bila kita mengintip halaman-halaman sekolah, merekam dengan baik kesungguhan wajah para muda belia, dan belajar tentang kesungguhan mengisi kemerdekaan, bukan merobek-robeknya dengan sikap, kata, dan perbuatan yang memalukan, jauh dari hati nurani. Mengisi kemerdekaan bukan urusan anak sekolah (saja), tetapi lebih-lebih orang-orang...
Top