Sekolah-sekolah Kebon Dalem: 75 Tahun Misi Khas di tengah Kampung Kota Pecinan

Sekolah-sekolah Kebon Dalem: 75 Tahun Misi Khas di tengah Kampung Kota Pecinan

Kampung Kota   Kampung kota bisa diartikan sebagai suatu permukiman yang tumbuh di kawasan urban. Dalam banyak kasus seringkali yang terjadi adalah tanpa perencanaan infrastruktur dan jaringan ekonomi kota. Dalam kampung kota yang padat terdapat berbagai masalah yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan kondisi sosial budaya ekonomi penduduknya. Di kampung kota, sarana seperti air bersih, MCK, Listrik, dan berbagai prasarana lingkungan seringkali tidak tersedia dengan baik. Kampung kota juga tidak memiliki fasilitas-fasilitas seperti peribadatan, sekolah, puskesmas, balai pertemuan, dan lapangan olahraga selain itu jalan-jalan kampung umumnya sempit dan tidak diperkeras. Sebagian besar wilayah kota-kota besar di Indonesia ditempati oleh pemukiman tidak terencana, tempat tinggal kebanyakan kaum migran ke kota yang dinamakan kampung. Satu kampung biasanya terbentuk dengan pertumbuhan penghuni sedikit-demi sedikit dan tidak melalui kedatangan banyak orang sekaligus. Karena kampung-kampung ini tidak direncanakan dan sering berpenduduk padat (sampai 900 orang tiap ha), betapa pun tanahnya dibagi-bagi lagi, prasarana tetap tidak memadai; jalan dan gang sempit sekali, becek, tidak diaspal, sarana jamban sama dengan di daerah pedesaan, air bersih tidak ada, sekolah, pusat kesehatan dan pelayanan untuk masyarakat serta lapangan untuk bermain atau rekreasi tidak ada, serta penampilannya kurang ‘cantik’ memberikan efek visual yang tidak baik. Memang salah satu ciri khas kampung-kota ini adalah kemiskinan dan buruknya kualitas hidup. Namun di sisi lain kampung-kota mewakili suatu budaya bermukim yang memberi warna dan aktifitas khas perkotaan di Indonesia. Bagaimana pun  komunitas ini secara potensial memiliki konsep sendiri tentang rumah di tengah kehidupan modern, konsep lahir dari perjuangan `mempertahankan hidup’ (survival) masyarakat tradisional agraris di tengah kultur modern perkotaan. Hal ini dalam modus arsitektural bisa dipandang menjadi suatu potensi sebagai produk arsitektur...
Eduard Michelis -2-

Eduard Michelis -2-

Eduard Michelis, anak ke-5 dari 8 bersaudara, dari keluarga campur agama. Ia dilahirkan 6 Februari 1813 di kota Muenster. Walaupun kehidupan ekonomi keluarganya lemah, tetapi suasana posiif dalam kebersamaan dikembangkan, terutama oleh ibunya. Ia mengurus rumah tangga dengan cinta kasih seorang istri dan ibu. Ia seorang perempuan dengan hidup batin yang mendalam. Ia merupakan jiwa keluarga itu. Di dalam hatinya bergolak sebuah kerinduan yang mendesak akan Allah, tetapi ia bukan seorang perempuan yang begitu saja menerima pengaruh atau tuntutan dari luar, ia menjaga kebebasan batin dalam mengambil keputusannya. Waktu usianya sudah lanjut, ia menulis surat kepada Eduard: “Kalian dan ayah merupakan segala-galanya bagiku. Allah adalah saksiku, betapa sering aku meminta-Nya, supaya segala kecelakaan yang mungkin dapat mengena kalian, diserahkan saja padaku. Supaya aku dapat melihat kalian bahagia (Buku Harian EM, Sept. 1836, Hal. 13). Pada tahun 1826, waktu semangat gerejani belum berkembang, ibunya menemukan Eduard – yang masih berumur 13 tahun – menulis sepucuk surat kepada Raja, supaya ia tidak menindas umat Katolik lagi. Kedekatan mereka berdua tampak pada surat ibunya kepada Eduard: “Bahwa surga masih akan memakai kamu, hal itu saya yakin sedalam-dalamnya”. Dari semua itu jelas bahwa ibu Eduard sangat mempercayakan diri kepada kasih Allah yang menyelenggarakan kehidupan umat manusia. Kepercayaan ini juga yang ia tanamkan dalam diri...
Sejuta Satu Pohon Untuk Indonesia

Sejuta Satu Pohon Untuk Indonesia

Banyak studi menunjukkan tanda-tanda bahwa bumi semakin menderita. Pemanasan global, bencana yang terus melanda – yang menyebabkan penyakit, penderitaan, bahkan kematian. Disadari atau tidak, perilaku manusia menjadi penyumbang terbesar atas kerusakan alam ini. Kabar baiknya, kesadaran masyarakat akan penyelamatan bumi, kian meningkat. Berbagai gerakan “Go Green” atau “Selamatkan Bumi” agaknya terus bergulir menjadi Gaya Hidup Manusia Modern. YPII Kantor Cabang Semarang secara khusus memaknai hari ini, Kamis, 26 April, 2012, bertepatan dengan kehadiran 7 Suster PI pertama kali di tanah Batavia, dengan pembibitan tanaman buah secara serentak di sekolah-sekolah dan kantor yayasan. Gerakan kesadaran ini semoga terus bergulir. Mulai dari benih kecil yang secara generatif akan tumbuh menjadi pohon yang besar, kokoh, dan kuat. Bersama masyarakat sekitar, kami ingin menjadi bagian Agen Perubahan akan Hidup di Bumi yang Sehat dan Nyaman. Salam...
170 Tahun Tarekat Suster Penyelenggaraan Ilahi -1-

170 Tahun Tarekat Suster Penyelenggaraan Ilahi -1-

Setelah pembicaraan dengan para sahabatnya pastor Franz Spiegel dan pastor Bernard Aumoller, Eduard Michelis memutuskan mendirikan sebuah rumah yatim piatu, sekaligus menjadi biara pertama dan tempat karya kerasulan untuk kongregasi baru yang ingin didirikan. 25 April 1842 batu pertama diletakkan. Pertanyaannya: Mengapa Eduard Michelis tersentuh oleh masalah ini, sedangkan ada yang lebih mendesak misalnya menangani kesulitan para perempuan muda yang datang dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan sebagai dampak dimulainya era industrialisasi waktu itu? Dan para perempuan itu tidak biasa dengan kehidupan di kota? Para suster mencoba mencari catatan sejarah yang tertinggal untuk menjawab pertanyaan ini. “Dalam penyelidikan kami menemukan bahwa keluarga Eduard Michelis selain di Mauritz, di pinggiran kota M?nster mereka juga tinggal beberapa waktu di tengah kota M?nster dekat Kiepenkerl – dekat Generalat sekarang. Rumah mereka terletak di depan rumah yatim piatu dari keluarga menengah. Sebagai anak ia melihat mereka bermain dan bekerja melalui jendela belakang rumah. Sisi yang memprihatinkannya adalah pakaian yang anak-anak itu kenakan dan kenyataan bahawa mereka tidak memiliki orang tua lagi. Setelah satu tahun, pada tanggal 3 November 1842, rumah sederhana itu selesai dibangun dan menampung 20 anak yatim piatu, sekaligus biara pertama para...
Our History in Indonesia

Our History in Indonesia

Pada bulan April 1934 tujuh Suster provinsi Belanda mendarat di Tanjung Priok dan langsung meneruskan perjalanan ke tujuan mereka: Bandung. Satu bulan sesudahnya mereka membuka biasara pertama di Residentsweg 23 (sekarang Jl. Otto Iskandardinata). Karena rumah itu terlalu kecul untuk biara maupun untuk sekolah (HCS), maka mereka pindah ke Waringinweg, yang sekarang menjadi kompleks susteran ‘Bintang Laut’ dengan sekolah-sekolah dari TK sampai SMA di Jl. Kebon Jati 209, Bandung (Agustus 1936). Dua tahun kemudian, dua orang suster dari rombongan misionaris yang keempat langsung menuju Semarang untuk mengurus yatim-piatu Kebon Dalem, Gang Pinggir 62. Dari dua rumah pertama di Bandung dan Semarang itu didirikan beberapa rumah lain, sperti di Jakarta (1951), Kudus (1954), Temanggung (1958), Klaten (1966), Tasikmalaya (1969), Delanggu (1971), Yogyakarta (1972) dan Tamiyang Layang (1980, Kalimantan Tengah). Rumah novisiat sudah dibuka pada 1943 di Kebon Dalem, tetapi pada 1972 pindah ke Solo. 1954 lahirlah Tarekat Penyelenggaraan Ilahi Propinsi Indonesia. Para suster PI di Indonesia bekerja dalam berbagai bidang, antara lain pendidikan, kesehatan, pastoral, dan pengembangan masyarakat. Pimpinan provinsi berkedudukan di...
Eduard Michelis and Congregation of Sisters of Divine Providence

Eduard Michelis and Congregation of Sisters of Divine Providence

3 November  1842 Eduard Michelis, seorang imam praja,  dari keuskupan  Münster , Jerman, mendirikan sebuah rumah yatim piatu untuk anak-anak miskin di St. Mauritz. Itulah titik awal berdirinya Kongregasi Suster-suster Penyelenggaraan Ilahi. Eduard lahir 6 Februari 1813 dari keluarga sangat sederhana sebagai anak ke lima dari delapan bersaudara. Dibesarkan oleh ibu penganut Protestan yang penuh cinta, semangat dan kehangatan serta ayah seorang tentara Katolik, pencinta buku, khususnya buku-buku sejarah, membentuk jiwa  pejuang dalam diri Eduard. Dari ibu, Eduard juga belajar mempercayakan diri kepada kasih Allah yang menyelenggarakan hidup manusia. Dan dari ayahnya ia belajar mencintai  keindahan alam bebas karya Allah Bapa. Eduard Michelis dikenal sebagai pelajar yang cerdas. Ia menyelesaikan studinya lebih cepat dari pada teman yang lain. Pada usia 23 tahun ia ditahbiskan sebagai imam katolik. Ia menyukai kehidupan dan tradisi Gereja khususnya Ekaristi. Di dalamnya ia menemukan cinta kasih Yesus Kristus yang teramat dalam. Cinta inilah yang menjadi pegangan dan mendorongnya untuk menjadi milik Kristus seutuhnya. Dan itulah arah hidupnya. Salah satu ungkapan cintanya pada Gereja dan kepeduliaannya kepada mereka yang tertindas ditunjukkan dengan cara menulis  kepada raja supaya raja menghentikan penindasan terhadap umat Katolik. Saat itu usianya baru 13 tahun. Di kemudian hari, terlebih setelah ia menjadi seorang imam, cinta kasihnya pada Gereja ini menjadi sumber kekuatan dan membentuk seluruh sikap hidup dan pemikirannya serta merasuki seluruh cara hidupnya. Tak bisa dipungkiri  pendidikan kedua orang tuanya sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian Eduard Michelis yang kuat sekaligus hangat sebagai sahabat orang-orang yang tertindas dan menderita.”Saya ingin sekali secara bebas dapat berbicara dengan orang-orang miskin,” katanya. Kharisma serta kecintaannya terhadap dunia pendidikan sungguh tak diragukan. Gereja mencatatnya sebagai ...
Top