Setetes Darah untuk Kemanusiaan

Setetes Darah untuk Kemanusiaan

13 November 2012, bertempat di Gedung Xaverius Jl. Gang Pinggir 62 Semarang, dilakukan gerakan donor darah. Tarekat Suster Penyelenggaraan Ilahi yang kali ini dimotori YPII Kantor Cabang Semarang bekerja sama dengan PMI Kota Semarang, dalam rangka 170 Tarekat, mencoba membangunkan kesadaran kita akan indahnya berbagi kehidupan. Gerakan ini kiranya menjadi awal aksi-aksi kemanusiaan selanjutnya yang sekaligus melatih kesadaran dan kepekaan pada para siswa PI untuk berbuat sesuatu bagi kehidupan manusia yang lain. Ajakan ini disambut baik oleh rekan-rekan kerja di lingkungan YPII Semarang, bahkan beberapa orang tua murid ikut bergabung di hari itu. Untuk mendonorkan darah setidaknya kita sendiri dalam keadaan aman, tidak sedang sakit bahkan minum obat generik sekalipun. PMI Kota Semarang menyebutkan, setidaknya Semarang membutuhkan 2000-an kantong darah setiap bulannya. Jumlah ini masih jauh di bawah kemampuan PMI menjaga persediaan tetap terjamin. Gg. Pinggir 62, di masa awal kemerdekaan sempat dua tahun menjadi salah satu markas PMI. Maka, tak berlebihan bila napak tilas 170 tahun Tarekat PI tahun ini, menunjuk kembali Gg. Pinggir 62 sebagai salah satu komunitas para suster PI menjadi posko gerakan kemanusiaan ini. Setetes darah kita adalah perpanjangan nyawa bagi...
Penanaman Sejuta Satu Pohon

Penanaman Sejuta Satu Pohon

“Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai,” demikian kata pepatah. Bencana alam khususnya banjir dan tanah longsor yang kian marak akhir-akhir ini, tidak semata karena curah hujan yang tinggi. Perilaku manusia yang mau atau tidak bersahabat dengan alam, sangat mempengaruhi pola datangnya bencana. Artinya, ketika manusia berperilaku seenaknya sendiri, egois alih-alih merasa mempunyai hak hidup atas tanah negeri ini, justru melakukan tindakan pengrusakan alam, hasilnya adalah bencana  di kemudian hari yang dibuat manusia sendiri. Pembangunan kota besar yang tak menghayati semangat eco friendly, rawan diserbu banjir besar.  Kebutuhan ekonomi manusia yang hanya berpusat pada pembangunan infrakstruktur untuk bisnis semata tanpa mentaati peraturan yang ada hanya akan membuat bencana kemanusiaan yang besar bertahun kemudian. Yayasan Penyelenggaraan Ilahi Indonesia cabang Semarang, memberi perhatian khusus pada pengembangan kawasan lindung melalui penanaman pohon. Dalam rangka 170 tahun tarekat Suster Penyelenggaraan Ilahi, 17 Desember 2012 yang lalu, para guru, siswa dan karyawan YPII di lingkungan Cabang Semarang, beramai-ramai menanam pohon keras di Penadaran Purwodadi. Tak kurang dari 7 bis membawa rombongan. Bekerja sama dengan masyarakat setempat, di bawah sinar matahari yang cerah bahkan cenderung terik, tak surut langkah PASUKAN HIJAU ini bermimpi menyejukkan kawasan gersang ini dengan pohon mangga, sirsak, dan berbagai pohon lain. Jika kita merasa berhak hidup sehat, kita pun wajib menjaga dan melestarikan lingkungan kita. Mulai hari ini menanam satu pohon untuk lestarinya kehidupan planet bumi kita....
The Medium is The Message

The Medium is The Message

Gara-gara televisi, radio, dan komputerisasi, sekarang dunia tampak lebih kecil daripada sebelumnya sepanjang sejarah manusia. Sekali menekan tombol , kita dapat melihat kejadian-kejadian yang terjadi di bagian lain di bumi ini. Budaya, kebiasaan daerah atau bangsa lain, dapat dengan mudah kita akses. Hal ini membuat kita jadi lebih terbantu memahami perbedaan ini. Kesalahanpahaman karena perbedaan cara pandang, antar dua kelompok, makin teredam. Sekarang kita dapat melihat dengan jelas perbedaan itu. Toleransi, rasa empati membangun semangat solidaritas. Tidak saja dalam skala lokal, regional, namun hingga mendunia. Model-model dialog antar dua perbedaan yang ekstrim semakin menjadi pilihan masyarakat modern. Akibatnya, kita jauh lebih memahami pikiran satu sama lain dibanding sebelumnya, dialog di antara kita menjadi lebih dalam. Spiritualitas Percakapan Sehari-hari Pepatah spiritual berbunyi: Jika murid siap, guru akan datang. Artinya, Jika kita terbuka dan siaga, seseorang akan membawa kebenaran yang perlu kita dengar, pada saat yang tepat. Kunci menerima informasi tersebut adalah dengan tidak pernah berhenti mengeksplorasi perjumpaan-perjumpaan seperti itu, dengan tentu saja bersikap hati-hati. Perjumpaan bermakna memang bisa terjadi kapan saja, namun biasanya hal itu takkan terjadi kecuali kita sendiri yang mengambil inisiatif. Pertama-tama, kita harus mengirimkan energi penuh cinta pada orang yang sedang kita jumpai tersebut dengan benar-benar memusatkan perhatian padanya. Ingatlah, apa yang kita pikirkan dan percayai menjadi semacam doa yang terkirim pada dunia, dan segala sesuatu di sekeliling kita berusaha memberikan apa yang sepertinya kita inginkan. Kuncinya adalah berusaha tetap berenergi tinggi dan menggunakan kekuatan kehendak dengan cara positif. Mengapa banyak orang tak bahagia, padahal dunia modern menyajikan jutaan kemewahan, kemudahan karena berbagai penemuan teknologi mutahir? Sudah ribuan tahun kita mengetahui pentingnya saling mengasihi dan bahwa sikap...
Great Teacher, Inspires

Great Teacher, Inspires

“‘Orangtualah yang melahirkan aku, dan gurulah yang menjadikanku manusia.’ Begitu ungkapan Jepang. Maka, Guru mendapat kedudukan sangat tinggi. Ia adalah ayah bagi anak-anak tak berayah dan penasehat bagi kalangan dewasa. Ia adalah pengabdi demi kehormatan, bukan untuk finansial, maka pengabdiannya bukan dibayar dengan emas dan perak. Bukan karena tidak bernilai, tapi justru karena tak ternilai.” Sedemikian tinggi penghargaan kepada seorang Guru. Di era globlalisasi sekarang ini, kecepatan dunia ditandai dengan kemajuan teknologi yang luar biasa dan tak terbendung pula produk yang dihasilkan. Lihat saja alat komunikasi, telepon genggam, yang terus diproduksi diikuti fasilitas yang menggiurkan. Dunia kian pendek. Sungguh, manusia yang lemah akan dibuat tak berdaya oleh rayuannya. Bila seorang dewasa, terpelajar pula, mereka yang disebut Guru, kewalahan karenanya, apalagi anak-anak, para remaja, orang-orang muda. Mereka adalah pribadi yang rentan terhadap aneka pilihan yang kurang bertanggungjawab. Pilihan-pilihan yang mewah itu tidak serta merta diikuti dengan warning, peringatan, akan efek psikolois, sosial, bahkan mental dan karakter generasi muda. Celakanya, bila seorang anak berada dalam lingkungan keluarga yang semata mengandalkan materi sebagai ukuran keberhasilan, dengan mudah ia akan ditelan arus jaman yang sekuler, menjadi pribadi yang mudah terombang-ambing tanpa nilai dan pemaknaan. Maka, berbahagialah bila Anda adalah seorang Guru, karena Anda diberi akses yang begitu luas membantu seorang anak menemukan jati dirinya, menapaki langkah demi langkah perjalanan hidupnya yang penuh keajaiban. Sekali Anda keliru menanamkan pengetahuan pada mereka, akibatnya bisa fatal. Sejalan dengan ‘kemewahan’ Anda sebagai Guru ini, ada seperangkat prasyarat yang harus Anda penuhi. Anda harus menyadari bahwa pilihan bebas diberikan pada Anda untuk menjadi Pendidik. Seorang pendidik, pertama, akan ‘mencetak’ seorang manusia yang terdidik. Artinya, ia akan memenuhi rasa...
Benih Sebuah Renungan

Benih Sebuah Renungan

Di suatu siang yang terik, di bawah sebuah pohon yang rindang, tampak dua orang yang sedang beristirahat. Mereka adalah seorang pedagang bersama anaknya. Wajah mereka kelihatan lelah sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka di bawah pohon yang besar itu. Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan sang anak yang masih belia. “Ayah, aku ingin bertanya,” terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. “Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah dan bisa membawa dagangan kita ke kota?” “Sepertinya,” lanjut si bocah, “Aku tidak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti ibu, berbeda dengan ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini.” Jari tangannya tampak menggores-gores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, “Bilakah aku bisa memiliki tubuh besar sepertimu, Ayah?” Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya dikais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian ia pun mulai berbicara. “Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan buahnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah juga berasal dari tempat yang sama.” Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. “Ketahuilah, Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih...
Beban Menjadi Guru, Guru Yang Bebas

Beban Menjadi Guru, Guru Yang Bebas

Menjadi manusia dewasa dan bertanggungjawab atas pilihan hidupnya mengandaikan adanya kebebasan dan kemandirian dalam memilih dan melaksanakan apa yang secara sadar dipahami sebagai bernilai dan baik bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Seseorang yang memilih profesi guru memang tidak dapat mengingkari kenyataan sosial historis yang membentuk citra guru. Guru ada karena masyarakat dan Negara membutuhkan kehadirannya. Oleh karena itu adalah sebuah kewajaran bila masyarakat dan Negara memiliki kepentingan dalam menentukan identitas guru demi kelanggengan keberadaannya sendiri. Namun, guru juga mesti menyadari bahwa dirinya memiliki kebebasan dalam menerima dan mengintegrasikan nilai-nilai dan harapan komunitas dalam hidupnya. Bagi guru, kekuatan kultural masyarakat dan legal Negara bukan hanya mengikat melainkan juga menajdi panduan bagi diri dalam membentuk identitas dirinya sebagai guru di tengah masyarakat. Setiap individu yang terpanggil menjadi guru hanya akan bertumbuh secara dewasa dan bertanggung jawab jika dapat menemukan kembali makna kebebasan diri berhadapan dengan tuntutan dan harapan masyarakat. Manusia memiliki kemampuan dalam menentukan kualitas dirinya dan mendefinisikan dunia di mana ia tinggal. Sejarah tidak pernah memiliki kekuatan dalam menentukan diri manusia, sebab manusia itulah yang menciptakan sejarah. Manusia memiliki ruang terbuka untuk mengekspresikan kebebasannya. Menjadi pelaku sejarah merupakan sebuah tindakan aktif individu yang dengan kebebasannya membentuk dan membangun dunia tempat ia hidup. Dia merancang dan membangun masyarakat . Seseorang tidak dapat menjadi pelaku perubahan dan pendidik karakter kalau kebebasan dalam dirinya terbelenggu. Setiap tindakan dewasa, di mana seorang individu mampu menghayati nilai secara bertanggungjawab mengandaikan adanya kebebasan memilih dan melaksanakan nilai yang diyakini sebagai benar dan baik. Nilai-nilai inilah yang memberi dasar kokoh sesorang guru untuk menghayati panggilan hidupnya sebagai individu yang memiliki tugas bagi orang lain dan...
Top