Daoed Joesoef: The New Idol

Daoed Joesoef: The New Idol

Age, as they say, is just a number. Just look at Daoed Joesoef. The former education minister, who turns 85, is sharper, more articulate and more knowledgeable than most public figures half his age. Daoed made headlines when he turned down the 2010 Achmad Bakrie Award for his lifetime of work. Established in 2003, the awards are presented to “distinguished countrymen and women for their extraordinary achievements in the social sciences and literature.” “I refused it because the hands that offered me the award were muddy,” Daoed said, referring to the Lapindo mudflow disaster in Sidoarjo, East Java, where hectares of land have been inundated with mud, leaving thousands homeless. The mudflow is widely blamed on a 2006 gas-drilling venture by Lapindo Brantas, part of the Bakrie group owned by the family of Golkar Party chairman Aburizal Bakrie. Daoed holds the distinction of being the first Indonesian to graduate with a degree in economics from the Sorbonne University in France. “When I arrived in Sorbonne, I was like a rat that fell in a barn,” he said.   “I refused it because the hands that offered me the award were muddy”   “I could learn so many things, I did not know where to start.” As minister of education and culture from 1978-83 under President Suharto, Daoed was known for two things: his so-called anti-Islam policy — even though he is a devout Muslim — and his decision to ban university students from engaging in political activities while on campus grounds.  He was also known for being bluntly critical of Suharto. In an interview with the Jakarta Globe at his house in Kemang, Daoed discussed...
Semangat Hari ini

Semangat Hari ini

Dareka no shoutai wa dareka ni mattaku yakunitatanai hito o shori suru houhou kara miru koto ga dekiru. KARAKTER SEJATI seseorang terlihat dari CARA ia memperlakukan seseorang yg sama sekali ‘tidak berguna’ baginya. by: Samuel...
Mengikutsertakan Anak-anak dalam Lomba

Mengikutsertakan Anak-anak dalam Lomba

Mengikutsertakan anak dalam sebuah kompetisi, seringkali penting bagi perkembangan pribadi anak tersebut. “Anakku menang apa kalah, ya? Hmm..sulit juga ibu menahan godaan untuk tak peduli siapa yang menang dalam suatu lomba. Beberapa ahli perkembangan melihat pentingnya kompetisi melalui lomba bagi perkembangan pribadi seseorang. Bagi anak-anak, ikut lomba juga perlu karena dengan berlomba, anak-anak kita akan belajar: * membangun semangat untuk berhasil * mengembangkan perilaku yang baik tentang menang – kalah * mengembangkan keterampilan koordinasi * berpikir kritis * proses mengambil keputusan * memecahkan masalah * memahami kekuatan dan kelemahannya * menentukan tujuan * aturan permainan Mengikutsertakan anak dalam lomba, tentu saja boleh. Apabila buah hati Anda punya potensi yang sangat bagus. Tetapi ada rambu penting sebelum mengikutsertakan anak-anak dalam suatu lomba: 1. Kenali temperamen anak, apakah ia jenis individu yang suka tampil atau yang mudah gugup menghadapi lomba. Bila si kecil mudah grogi, ubah kata “lomba mewarnai gambar” menjadi “mewarnai gambar rame-rame”. 2. Lomba sesuai kemampuan anak. Pahami kekuatan dan kelemahan anak. Mengikutsertakan anak dalam lomba kelompok usia di atasnya, membuat ia tidak bahagia. Materi lomba yang tidak sesuai kemampuannya, membuat anak Anda merasa tak berdaya. Perasaan tak berdaya membuat anak kehilangan rasa percaya diri. 3. Perhatikan waktu, lokasi, dan kondisi anak. Mengikutsertakan anak lomba di luar kota hanya karena Anda ingin sekalian jalan-jalan, bukan keputusan tepat. Lamanya waktu di jalan membuat anak lelah. Fisik lelah membuat anak tak antusias mengikuti lomba. Baginya, lomba bukan sesuatu yang menyenangkan lagi. 4. Beri motivasi tanpa merasa dituntut. 5. Jelaskan pada anak, lomba yang ia ikuti memberi pengalaman agar anak merasakan suasana lomba. 6. Jelaskan tujuan lomba, yaitu untuk melihat kemampuan diri,...
Take Time…

Take Time…

ambil waktu untuk berpikir, karena itu sumber kekuatan ambil waktu untuk membaca, karena itu dasar kebijaksanaan ambil waktu untuk bermain, karena itu rahasia agar tetap awet muda ambil waktu untuk hening, karena itu saat mencari Tuhan ambil waktu untuk jadi sadar, karena itu kesempatan untuk menolong sesama ambil waktu untuk mencinta dan dicinta, karena itu pemberian Tuhan yang teragung ambil waktu untuk tertawa, karena itu adalah musik jiwa ambil waktu untuk bersikap ramah, karena itu jalan menuju kebahagiaan ambil waktu untuk bermimpi, karena dengan mimpi-mimpi itu masa depan dibangun ambil waktu untuk berdoa, karena doa adalah kekuatan terbesar di...
Hardiknas 2012 “Menjadi Agen Perubahan yang Tak Henti Belajar”

Hardiknas 2012 “Menjadi Agen Perubahan yang Tak Henti Belajar”

Berbicara mengenai Pendidikan, tiada putus dan tak lekang jaman. Pendidikan hingga hari ini masih diakui perannya sebagai wahana berubahnya seorang manusia muda menjadi pribadi yang berwawasan dan bersikap baru. Mereka dipersiapkan untuk sebuah masa depan yang gemilang, yang mampu menjadi bagian sebuah tata dunia yang baru dengan sumbangan-sumbangan pemikiran, kerja, dan kreativitasnya. Namun, sebelum sampai pada tujuan itu, kita harus menengok sejenak pada insan-insan yang ada di dalam sebuah lembaga Pendidikan, khsususnya lembaga pendidikan formal semacam Yayasan Pendidikan Penyelenggaraan Ilahi Kantor Cabang Semarang ini. GURU Sebuah profesi yang melekat erat pada sebuah proses pendidikan. Perannya sangat signifikan, dan menentukan. Kepada merekalah dituntut seperangkat syarat yang suka tidak suka harus disandangnya, karena begitulah masyarakat menaruh harapan itu pada mereka. Nilai-nilai apa yang dikenalkan guru kepada siswa untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang bener-benar dipegang orang yang benar-benar terdidik? Maka, dalam sikap hidupnya sehari-hari guru dituntut memiliki suatu minat yang tidak hanya terarah pada kuantitas pengetahuan yang akan dibagikan pada siswa melainkan juga bagaimana refleksi kualitas hidupnya yang dikembangkan dari ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan. Setiap guru harus yakin mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik. Guru bekerja dalam sebuah medan yang menarik antara kebenaran sains dan seni, pertemuan yang spontan, tidak berulang dan kreatif antara guru dan siswa. Maka, tak putuslah hendaknya para guru mencari tahu hakekat manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara memperlakukannya hingga tercapailah tujuan pendidikan itu. KARYAWAN dan STAF...
Anak-anak Pun Menikmati Kompetisi

Anak-anak Pun Menikmati Kompetisi

Sejak usia 3 tahun, sebenarnya seorang anak sudah memiliki naluri untuk bersaing. Dan kompetisi itu secara tidak sadar telah dimulai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan inisiatif kerap datang dari orang tua. Di sekolah pun kompetisi tak dapat dihindari. Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak YPII adalah wahana latihan bagi si balita. Dengan membiarkan anak mengukur dan mengenali dirinya, membiarkan anak tertempa oleh situasi nyata, melalui berbagai aktivitas dan pembiasaan-pembiasaan, ia akan keluar menjadi pribadi yang mampu survive di masa...
Top