Bertekun dalam Hidup Rohani

Bertekun dalam Hidup Rohani

Pendidikan rohani dan karakter tetap menjadi pokok perhatian sekolah-sekolah di bawah naungan Penyelenggaraan Ilahi. Kelas 6 SD Marsudi Utami Tahun ini  melalui kegiatan retret 7 – 8 Maret, di Griya Paseban Semarang, mendalami tema “Who am I”, sebagal salah satu upaya ke arah itu. Melalui langkah-langkah dinamika kelompok, tugas dan refleksi pribadi, setiap siswa dilatih mengenali diri sendiri. Berangkat dari latar belakang kultur keluarga yang berbeda-beda, jenis kelamin sebagai anak laki-laki dan perempuan, masing-masing dianugerahi kemampuan, daya, dan kehendak untuk berkembang. Dinamika Kelompok retret kali ini, mengajak setiap anak mengekspresikan diri. Menggambar potret diri, menuliskan data diri, melatih keberanian menerima apa yang ada. Tak ada keluarga yang sempurna, tak ada pribadi yang hanya memiliki kekurangan atau kelebihan saja. Semua terkombinasi dengan sangat indah dan menarik. Ketika anak diajak memasuki diri sendiri yang dilengkapi dengan berbagai kemampuan, ia akan terkejut betapa banyak yang ia temukan sebagai rahmat kehidupannya. Sebaliknya hal-hal yang pahit, keluarga yang tak seideal yang mereka harapkan, melatihkan rasa syukur. Bersyukur atas masa-masa yang sulit yang dihadapi, sebab melalui itulah setiap anak akan bertumbuh menjadi lebih dewasa. Bersyukur tentu saja dimaksudkan dalam konteks manusia beriman bahwa Allah adalah baik. Ia punya rencana sangat hebat untuk setiap pribadi meski jalannya berliku dan mendaki. Diharapkan melalui aktivitas ini yang terintegrasi dengan aktivitas lain di sekolah, diharapkan akan terbentuk identitas diri. Yaitu semacam titik pertemuan atau persimpangan antara kekuatan dari dalam dan kekuatan dari luar diri seseorang yang membuat seseorang menjadi dirinya. Tentu saja penemuan diri yang otentik akan memberi kebahagiaan yang mendalam. Kebahagiaan akan mendorong seseorang hidup berbagi, peduli, penuh belas  kasih pada orang lain. dan itulah salah satu tujuan...
Dirgahayu Indonesia Mengisi Kemerdekaan

Dirgahayu Indonesia Mengisi Kemerdekaan

Kamis, 16 Agustus, di halaman SD Kebon Dalem Semarang, tiga perempuan kecil tampak serius berlatih mengibarkan bendera. Besok adalah peringatan tahun ke-67 kemerdekaan Indonesia. Seperti layaknya, lomba-lomba memeriahkan peringatan itu, ramai diselenggarakan. Yang tak terduga, justru lomba Pengibaran Bendera adalah lomba yang paling diminati anak-anak itu. Tak hanya mereka yang terpilih mewakili kelas, beberapa anak lain ikut  berlatih  seolah akan bertugas. Tak ada raut main-main di wajah mereka. Kesungguhan jelas terlihat. Saat langkah belum padu, mereka mengulangnya lagi dan lagi, meski mentari kian terik menyengat kulit. Dalam benak sederhana mereka, apakah arti kemerdekaan itu? Apa arti Merah Putih, berbangsa satu, bangsa Indonesia? Dalam keterbatasan kanak-kanak mereka yang terekam kuat masih sebatas bagaimana menghargai lambang-lambang negara, meniru gagahnya langkah para pejuang meraih kemerdekaan RI dengan pengorbanan darah, bahkan nyawa, seperti yang mereka baca di buku-buku sejarah nasional di kelas. Mungkinkah tentang kesungguhan mengisi kemerdekaan, semestinya kita belajar pada anak-anak sekolah? Karena bila kita mau jujur, di kalangan orang dewasa justru yang tampak adalah pengkhianatan, kalau belum boleh dikatakan kegagalan mengisi kemerdekaan. Pengkhianatan lewat perbuatan korupsi, kekerasan dan pertikaian atas dasar perbedaan (apapun), sumpah serapah dan ugal-ugalan di jalan-jalan raya, ketidakhormatan pada mereka yang kalah dari budaya hedonis ini. Mulai dari politisi, hingga orang biasa, cermin yang dipantulkan masih jauh dari layak diteladan. Bila esok pagi, dan esok-esok yang lain pada 17 Agustus, kita punya waktu sedikit saja, baik bila kita mengintip halaman-halaman sekolah, merekam dengan baik kesungguhan wajah para muda belia, dan belajar tentang kesungguhan mengisi kemerdekaan, bukan merobek-robeknya dengan sikap, kata, dan perbuatan yang memalukan, jauh dari hati nurani. Mengisi kemerdekaan bukan urusan anak sekolah (saja), tetapi lebih-lebih orang-orang...
Greenspiration: Pidato Anak 12 Tahun Membungkam Para Pemimpin Dunia di PBB

Greenspiration: Pidato Anak 12 Tahun Membungkam Para Pemimpin Dunia di PBB

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki,seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ). ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah lingkungan. Dan mereka pun diundang menghadiri KTT Rio+20 PBB 1992,dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka. Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun. __________________ Inilah Isi pidato tersebut: Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O (Enviromental Children Organization) Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga,Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja. Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang. Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar. Saya merasa takut...
Tahukah Anda? Vanilla…

Tahukah Anda? Vanilla…

Vanilla atau Vanili, yang berasal dari Mexico ini merupakan tanaman bumbu perasa termasuk dalam keluarga besar anggrek. Diam-diam Vanilla menjadi bumbu termahal ke-2 setelah kunyit (Rp 225rb – 360rb/kg)! Karena dapat ditanam tanpa membutuhkan lahan yang luas, budidaya Vanilla dapat dipilih, setidaknya untuk melatih anak-anak atau siswa kita mengenal tanaman yang ternyata juga memiliki manfaat: 1. Mengurangi nafsu makan Aroma vanilla akan membuat Anda makan lebih sedikit. Hal ini disebabkan wangi vanilla yang ‘menipu’ otak. Aromanya membuat otak berpikir kalau Anda sudah makan lebih banyak dari sebenarnya. Jadi, tak ada salahnya untuk menghirup vanila sebelum makan, untuk membantu mengontrol nafsu makan. 2. Pengusir serangga Vanilla juga bisa dimanfaatkan untuk mengusir serangga. Nyamuk sangat tidak tahan dengan bau vanila, jadi Anda bisa menjadikan vanilla sebagai bahan penyemprot serangga yang aman dalam rumah. Untuk membuatnya campur saja dua ons ekstrak vanila dengan dua ons air dalam botol semprot kecil. Anda pun memiliki penangkal serangga yang harum dan aman. 3. Pengharum rumah Untuk membuat rumah terkesan hangat, aroma juga harus diperhatikan. Tak perlu menggunakan pengharum ruangan buatan yang terbuat dari bahan kimia. Manfaatkan saja minyak aroma terapi vanilla. Bakar minyak tersebut selama beberapa menit. Atau, Anda bisa mencampur minyak dengan air dalam botol penyemprot. Lalu, semprotkan di seluruh sudut ruangan rumah. 4. Melembutkan kulit Vanilla mengandung antioksidan tinggi. Beberapa ahli kulit memanfaatkan vanilla untuk melindungi kulit dari racun. Anda bisa membuat pembersih wajah sendiri yang terbuat dari bubuk vanila. sumber: favim informasi bibit: PT. Villa Domba Niaga Indonesia Sdr. Agus Ramada S, HP. 0815.941.3826 Email....
Semangat Hari ini

Semangat Hari ini

Dareka no shoutai wa dareka ni mattaku yakunitatanai hito o shori suru houhou kara miru koto ga dekiru. KARAKTER SEJATI seseorang terlihat dari CARA ia memperlakukan seseorang yg sama sekali ‘tidak berguna’ baginya. by: Samuel...
Mengikutsertakan Anak-anak dalam Lomba

Mengikutsertakan Anak-anak dalam Lomba

Mengikutsertakan anak dalam sebuah kompetisi, seringkali penting bagi perkembangan pribadi anak tersebut. “Anakku menang apa kalah, ya? Hmm..sulit juga ibu menahan godaan untuk tak peduli siapa yang menang dalam suatu lomba. Beberapa ahli perkembangan melihat pentingnya kompetisi melalui lomba bagi perkembangan pribadi seseorang. Bagi anak-anak, ikut lomba juga perlu karena dengan berlomba, anak-anak kita akan belajar: * membangun semangat untuk berhasil * mengembangkan perilaku yang baik tentang menang – kalah * mengembangkan keterampilan koordinasi * berpikir kritis * proses mengambil keputusan * memecahkan masalah * memahami kekuatan dan kelemahannya * menentukan tujuan * aturan permainan Mengikutsertakan anak dalam lomba, tentu saja boleh. Apabila buah hati Anda punya potensi yang sangat bagus. Tetapi ada rambu penting sebelum mengikutsertakan anak-anak dalam suatu lomba: 1. Kenali temperamen anak, apakah ia jenis individu yang suka tampil atau yang mudah gugup menghadapi lomba. Bila si kecil mudah grogi, ubah kata “lomba mewarnai gambar” menjadi “mewarnai gambar rame-rame”. 2. Lomba sesuai kemampuan anak. Pahami kekuatan dan kelemahan anak. Mengikutsertakan anak dalam lomba kelompok usia di atasnya, membuat ia tidak bahagia. Materi lomba yang tidak sesuai kemampuannya, membuat anak Anda merasa tak berdaya. Perasaan tak berdaya membuat anak kehilangan rasa percaya diri. 3. Perhatikan waktu, lokasi, dan kondisi anak. Mengikutsertakan anak lomba di luar kota hanya karena Anda ingin sekalian jalan-jalan, bukan keputusan tepat. Lamanya waktu di jalan membuat anak lelah. Fisik lelah membuat anak tak antusias mengikuti lomba. Baginya, lomba bukan sesuatu yang menyenangkan lagi. 4. Beri motivasi tanpa merasa dituntut. 5. Jelaskan pada anak, lomba yang ia ikuti memberi pengalaman agar anak merasakan suasana lomba. 6. Jelaskan tujuan lomba, yaitu untuk melihat kemampuan diri,...
Top