FIlsafat Konstruktivisme

FIlsafat Konstruktivisme

Bagian yang penting dalam pendidikan formal di sekolah adalah membantu anak didik untuk mengetahui sesuatu, terutama pengetahuan. Secara sederhana, bagaimana membantu anak didik untuk menguasai bahan pelajaran yang diberikan guru. Filsafat yang membicarakan tentang pengetahuan sering disebut epistemologi. Menurut filsafat klasik, pengetahuan itu sudah ada dan sudah jadi. Tugas guru adalah mentransfer pengetahuan itu ke dalam otak anak didik, sehingga anak didik menjadi tahu. Maka, anak didik tinggal membuka otaknya dan menerima pengetahuan itu. Atau sering kali diungkapkan bahwa anak didik itu seperti tabula rasa, kertas putih kosong. Sedangkan tugas guru adalah memberi tulisan-tulisan pada kertas kosong tersebut. Menurut filsafat konstruktivisme yang berbeda dengan filsafat klasik, pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) siswa sendiri yang sedang belajar. Pengetahuan siswa akan anjing adalah bentukan siswa sendiri yang terjadi karena siswa mengolah, mencerna, dan akhirnya merumuskan dalam otaknya pengertian akan anjing. Pengetahuan itu kebanyakan dibentuk lewat pengalaman indrawi, lewat melihat, menjamah, membau, mendengar, dan akhirnya merumuskannya dalan pikiran. Dalam pengertian konstrukstivisme, pengetahuan itu merupakan proses menjadi, yang pelan-pelan menjadi lebih lengkap dan benar. Sebagai contoh, pengetahuan siswa tentang kucing terus berkembang dari pengertian yang sederhana, tidak lengkap dan semakin dia dewasa serta mendalami banyak hal tentang kucing, maka pengetahuannya tentang kucing akan bertambah lengkap. Menurut para konstruktivis, pengetahuan itu dapat dibentuk secara pribadi (personal). Siswa itu sendirilah yang membentuknya. Tokoh dalam hal ini adalah Piaget. Semua hal lain termasuk pelajaran dan arahan guru hanya merupakan bahan yang harus diolah dan dirumuskan oleh siswa sendiri. Tanpa sadar siswa sendiri aktif mengolah, mempelajari, dan mencerna, ia tidak akan menjadi tahu. Maka, dalam pengertian ini, pendidikan atau pengajaran harus membantu anak didik aktif belajar sendiri....
Daoed Joesoef: The New Idol

Daoed Joesoef: The New Idol

Age, as they say, is just a number. Just look at Daoed Joesoef. The former education minister, who turns 85, is sharper, more articulate and more knowledgeable than most public figures half his age. Daoed made headlines when he turned down the 2010 Achmad Bakrie Award for his lifetime of work. Established in 2003, the awards are presented to “distinguished countrymen and women for their extraordinary achievements in the social sciences and literature.” “I refused it because the hands that offered me the award were muddy,” Daoed said, referring to the Lapindo mudflow disaster in Sidoarjo, East Java, where hectares of land have been inundated with mud, leaving thousands homeless. The mudflow is widely blamed on a 2006 gas-drilling venture by Lapindo Brantas, part of the Bakrie group owned by the family of Golkar Party chairman Aburizal Bakrie. Daoed holds the distinction of being the first Indonesian to graduate with a degree in economics from the Sorbonne University in France. “When I arrived in Sorbonne, I was like a rat that fell in a barn,” he said.   “I refused it because the hands that offered me the award were muddy”   “I could learn so many things, I did not know where to start.” As minister of education and culture from 1978-83 under President Suharto, Daoed was known for two things: his so-called anti-Islam policy — even though he is a devout Muslim — and his decision to ban university students from engaging in political activities while on campus grounds.  He was also known for being bluntly critical of Suharto. In an interview with the Jakarta Globe at his house in Kemang, Daoed discussed...
Take Time…

Take Time…

ambil waktu untuk berpikir, karena itu sumber kekuatan ambil waktu untuk membaca, karena itu dasar kebijaksanaan ambil waktu untuk bermain, karena itu rahasia agar tetap awet muda ambil waktu untuk hening, karena itu saat mencari Tuhan ambil waktu untuk jadi sadar, karena itu kesempatan untuk menolong sesama ambil waktu untuk mencinta dan dicinta, karena itu pemberian Tuhan yang teragung ambil waktu untuk tertawa, karena itu adalah musik jiwa ambil waktu untuk bersikap ramah, karena itu jalan menuju kebahagiaan ambil waktu untuk bermimpi, karena dengan mimpi-mimpi itu masa depan dibangun ambil waktu untuk berdoa, karena doa adalah kekuatan terbesar di...
Hardiknas 2012 “Menjadi Agen Perubahan yang Tak Henti Belajar”

Hardiknas 2012 “Menjadi Agen Perubahan yang Tak Henti Belajar”

Berbicara mengenai Pendidikan, tiada putus dan tak lekang jaman. Pendidikan hingga hari ini masih diakui perannya sebagai wahana berubahnya seorang manusia muda menjadi pribadi yang berwawasan dan bersikap baru. Mereka dipersiapkan untuk sebuah masa depan yang gemilang, yang mampu menjadi bagian sebuah tata dunia yang baru dengan sumbangan-sumbangan pemikiran, kerja, dan kreativitasnya. Namun, sebelum sampai pada tujuan itu, kita harus menengok sejenak pada insan-insan yang ada di dalam sebuah lembaga Pendidikan, khsususnya lembaga pendidikan formal semacam Yayasan Pendidikan Penyelenggaraan Ilahi Kantor Cabang Semarang ini. GURU Sebuah profesi yang melekat erat pada sebuah proses pendidikan. Perannya sangat signifikan, dan menentukan. Kepada merekalah dituntut seperangkat syarat yang suka tidak suka harus disandangnya, karena begitulah masyarakat menaruh harapan itu pada mereka. Nilai-nilai apa yang dikenalkan guru kepada siswa untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang bener-benar dipegang orang yang benar-benar terdidik? Maka, dalam sikap hidupnya sehari-hari guru dituntut memiliki suatu minat yang tidak hanya terarah pada kuantitas pengetahuan yang akan dibagikan pada siswa melainkan juga bagaimana refleksi kualitas hidupnya yang dikembangkan dari ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan. Setiap guru harus yakin mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik. Guru bekerja dalam sebuah medan yang menarik antara kebenaran sains dan seni, pertemuan yang spontan, tidak berulang dan kreatif antara guru dan siswa. Maka, tak putuslah hendaknya para guru mencari tahu hakekat manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara memperlakukannya hingga tercapailah tujuan pendidikan itu. KARYAWAN dan STAF...
Siapa Lagi Kalau Bukan Kamu?

Siapa Lagi Kalau Bukan Kamu?

Ada seorang Yahudi yang saleh. Ia ingin memperkenalkan cucu laki-lakinya sesuai tradisi tentang rahasia-rahasia dan janji-janji Allah. Ia memanggil cucunya itu dan mulai bercerita: “Di pintu gerbang di Roma duduk seorang pengemis yang sakit kusta dan lumpuh. Dan ia menanti dan menanti dan menanti… pengemis ini adalah Mesias yang diutus oleh Allah.” Anak itu memandang kakeknya dengan terheran-heran lalu bertanya: “Sebenarnya Mesias itu menunggu siapa?” Kakeknya yang tua itu meletakkan kedua tangannya di atas kepala anak itu dan menjawab: “Ia menanti kamu!” “Menanti saya?” Tanya anak itu dengan heran. “Ya, menanti kamu, tak ada orang yang lain”, jawab kakeknya dengan tegas. “Mesias itu sakit kusta dan lumpuh. Ia sendiri tidak dapat membawa damai Allah. Maka ia meminta kepada setiap orang yang lewat, apakah ia sedia menolong-Nya dalam tugas-Nya. Maka cucuku, ia juga membutuhkan bantuanmu.” Setelah lama berpikir cucunya itu bertanya: “Tetapi apa yang harus saya lakukan bagi-Nya?” Orang tua itu memandang cucunya dan menjawab: “Pengemis itu berkata kepada setiap orang: sungguh baik bahwa kamu telah datang untuk mengambil alih perutusan saya. Masuklah ke dalam kota dan rundingkanlah dengan setiap orang yang kamu jumpai, apa yang dapat kami lakukan untuk mengakhiri kekerasan dan ketidakadilan. Saya telah menanti kamu, sungguh, hanya kamu.” Anak itu terdiam. Beberapa saat kemudian ia berkata dengan tergagap: “Tetapi kakek, apakah saya dapat melakukannya?” Apakah saya dapat membawa perdamaian dari Allah di dunia ini?” Lalu orang tua itu memegang bahu cucunya dan berseru: “Siapa lagi kalau bukan kamu? Kamu yang serba bisa dan kaya. Kamu mempunyai mata untuk melihat, mulut untuk berbicara, tangan untuk berbuat adil, dan kaki yang dapat menempuh jalan perdamaian.” Sumber: Dokumen Perjalanan 75...
Top