Dirgahayu Indonesia Mengisi Kemerdekaan

Dirgahayu Indonesia Mengisi Kemerdekaan

Kamis, 16 Agustus, di halaman SD Kebon Dalem Semarang, tiga perempuan kecil tampak serius berlatih mengibarkan bendera. Besok adalah peringatan tahun ke-67 kemerdekaan Indonesia. Seperti layaknya, lomba-lomba memeriahkan peringatan itu, ramai diselenggarakan. Yang tak terduga, justru lomba Pengibaran Bendera adalah lomba yang paling diminati anak-anak itu. Tak hanya mereka yang terpilih mewakili kelas, beberapa anak lain ikut  berlatih  seolah akan bertugas.

Tak ada raut main-main di wajah mereka. Kesungguhan jelas terlihat. Saat langkah belum padu, mereka mengulangnya lagi dan lagi, meski mentari kian terik menyengat kulit.

Dalam benak sederhana mereka, apakah arti kemerdekaan itu? Apa arti Merah Putih, berbangsa satu, bangsa Indonesia? Dalam keterbatasan kanak-kanak mereka yang terekam kuat masih sebatas bagaimana menghargai lambang-lambang negara, meniru gagahnya langkah para pejuang meraih kemerdekaan RI dengan pengorbanan darah, bahkan nyawa, seperti yang mereka baca di buku-buku sejarah nasional di kelas.

Mungkinkah tentang kesungguhan mengisi kemerdekaan, semestinya kita belajar pada anak-anak sekolah? Karena bila kita mau jujur, di kalangan orang dewasa justru yang tampak adalah pengkhianatan, kalau belum boleh dikatakan kegagalan mengisi kemerdekaan. Pengkhianatan lewat perbuatan korupsi, kekerasan dan pertikaian atas dasar perbedaan (apapun), sumpah serapah dan ugal-ugalan di jalan-jalan raya, ketidakhormatan pada mereka yang kalah dari budaya hedonis ini. Mulai dari politisi, hingga orang biasa, cermin yang dipantulkan masih jauh dari layak diteladan.

Bila esok pagi, dan esok-esok yang lain pada 17 Agustus, kita punya waktu sedikit saja, baik bila kita mengintip halaman-halaman sekolah, merekam dengan baik kesungguhan wajah para muda belia, dan belajar tentang kesungguhan mengisi kemerdekaan, bukan merobek-robeknya dengan sikap, kata, dan perbuatan yang memalukan, jauh dari hati nurani.

Mengisi kemerdekaan bukan urusan anak sekolah (saja), tetapi lebih-lebih orang-orang dewasa yang berakal sehat dan tahu arti kemerdekaan sejati.

M e r d e k a…!!!

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top