Sekolah-sekolah Kebon Dalem: 75 Tahun Misi Khas di tengah Kampung Kota Pecinan

Sekolah-sekolah Kebon Dalem: 75 Tahun Misi Khas di tengah Kampung Kota Pecinan

Kampung Kota  Kali Semarang dari Gang Lombok 1920

Kampung kota bisa diartikan sebagai suatu permukiman yang tumbuh di kawasan urban. Dalam banyak kasus seringkali yang terjadi adalah tanpa perencanaan infrastruktur dan jaringan ekonomi kota.

Dalam kampung kota yang padat terdapat berbagai masalah yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan kondisi sosial budaya ekonomi penduduknya. Di kampung kota, sarana seperti air bersih, MCK, Listrik, dan berbagai prasarana lingkungan seringkali tidak tersedia dengan baik. Kampung kota juga tidak memiliki fasilitas-fasilitas seperti peribadatan, sekolah, puskesmas, balai pertemuan, dan lapangan olahraga selain itu jalan-jalan kampung umumnya sempit dan tidak diperkeras. Sebagian besar wilayah kota-kota besar di Indonesia ditempati oleh pemukiman tidak terencana, tempat tinggal kebanyakan kaum migran ke kota yang dinamakan kampung. Satu kampung biasanya terbentuk dengan pertumbuhan penghuni sedikit-demi sedikit dan tidak melalui kedatangan banyak orang sekaligus. Karena kampung-kampung ini tidak direncanakan dan sering berpenduduk padat (sampai 900 orang tiap ha), betapa pun tanahnya dibagi-bagi lagi, prasarana tetap tidak memadai; jalan dan gang sempit sekali, becek, tidak diaspal, sarana jamban sama dengan di daerah pedesaan, air bersih tidak ada, sekolah, pusat kesehatan dan pelayanan untuk masyarakat serta lapangan untuk bermain atau rekreasi tidak ada, serta penampilannya kurang ‘cantik’ memberikan efek visual yang tidak baik. Memang salah satu ciri khas kampung-kota ini adalah kemiskinan dan buruknya kualitas hidup.

Namun di sisi lain kampung-kota mewakili suatu budaya bermukim yang memberi warna dan aktifitas khas perkotaan di Indonesia. Bagaimana pun  komunitas ini secara potensial memiliki konsep sendiri tentang rumah di tengah kehidupan modern, konsep lahir dari perjuangan `mempertahankan hidup’ (survival) masyarakat tradisional agraris di tengah kultur modern perkotaan. Hal ini dalam modus arsitektural bisa dipandang menjadi suatu potensi sebagai produk arsitektur yang khas Indonesia, suatu ‘dunia hidup’ ala Indonesia. Maka dari itu diperlukan suatu program pembangunan fisik yang menjaga tetap tumbuh dan berkembangnya kekuatan sosial ekonomi dan kultural komunitas tersebut.

Kampung Kota Pecinan Semarang

Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia memiliki banyak perkampungan yang lahir atau bahkan menjadi embrio kota. Kampung-kampung kuno di Semarang selain mencerminkan aktivitas masyarakat penghuninya, juga mencerminkan beragam etnis yang mencari penghidupan di Semarang, seperti etnis Arab, Cina, Melayu, Banjar dan lain sebagainya. Dari nama kampung-kampung kuno, yang telah terbentuk jauh sebelum keberadaan kota Semarang, dapat dilacak  sejarah dari kampung tersebut.

Salah satu kampung kuno di Semarang adalah kampung Pecinan yang merupakan pemukiman masyarakat Cina. Pecinan Semarang telah mengalami pasang surut dalam dinamika sejarah kota Semarang. Dinamika kampung Pecinan tercermin dari penamaan atau toponim dari jalan-jalan  atau kampung-kampung kecil yang terdapat di lingkungan kampung Pecinan tersebut. Pecinan merupakan salah satu kampung atau yang dalam tulisan ini disebut sebagai kawasan, dapat menjadi identitas kota Semarang.

Kawasan Pecinan terbentuk dari beberapa unsur yaitu jalan dan kampung-kampung kecil yang ada di dalamnya. Penamaan jalan dan kampung-kampung yang ada di Pecinan dan sekitarnya mempunyai beberapa ciri yaitu :

•Nama  jalan dan kampung  berkaitan dengan perkembangan aktivitas ekonomi

•Nama jalan dan kampung  yang menggambarkan situasi dan kondisi alamiah  atau  lingkungan setempat.

•Nama jalan dan kampung yang berkaitan dengan tokoh masyarakat yang ada di daerah tersebut.

•Nama jalan dan kampung yang terkait dengan kondisi alamiah tempat tersebut

•Nama jalan dan kampung yang terkait dengan flora

•Nama jalan dan kampung yang terkait dengan etnisitas

Kawasan Pecinan Simongan (sebelum tahun 1740)

Pada awalnya pemukiman masyarakat Cina di Semarang terletak di daerah Simongan, di sebelah barat pusat kota.  Sebagai pemukiman masyarakat Cina, ciri Simongan ditandai dengan keberadaan kelenteng Sam Po Kong  atau kelenteng Gedong Batu. Toponim yang terkait dengan permukiman Cina di Semarang yang paling awal adalah Pecinan, Simongan, Gedong Batu, Mangkang.

Pecinan berasal dati kata Cina, merupakan sebutan untuk permukiman orang-orang Cina.

Nama Simongan tidak diketahui secara pasti maknanya. Diperkirakan kata Simongan berasal dari kata simo (bahasa Jawa). Menurut Kamus Bahasa Jawa kata simo mempunyai arti tanah perdikan yaitu tanah yang tidak dikenai pajak.  Ada arti lain dari simo yaitu macan. Apakah dua pengertian ini bisa digabungkan, dalam arti Simongan sebagai tanah perdikan dan Simongan yang dahulu terdapat banyak singa. Perlu kajian lebih lanjut tentang hal ini karena sumber-sumber yang sangat terbatas.

Gedong Batu adalah sebutan untuk kelenteng yang berada di bukit batu/gua batu. Gedong Batu berasal dari kata gedung dan batu, yang artinya bangunan dari batu.

Nama Mangkang diperkirakan berasal dari kata wangkang chun, yang artinya perahu-perahu jung besar. Dahulu diperkirakan perahu-perahu yang ditumpangi oleh Cheng Ho dan pengawalnya mendarat di tempat tersebut.

Sekolah-sekolah Kebon Dalem di tengah Kampung Kota Pecinan Semarang

Berbicara tentang sekolah-sekolah Kebon Dalem yang berada di bawah naungan Suster Penyelenggaraan Ilahi, tak dapat dilepaskan dari nilai sejarah tumbuh dan berkembangnya kawasan di seitarnya.

SMA Kebon Dalem berada di kawasan Kelurahan Jagalan.  Klentheng Pak Kik Bio menjadi ciri khas kawasan ini. Seiring dengan perkembangan waktu, semakin banyak penduduk yang bermigrasi dan menetap di dalamnya. Mereka memilih pindah ke kampung kota dengan berbagai alasan, terutama karena letak kampung kota yang dekat dengan pusat perekonomian sehingga mudah untuk mencari pekerjaan. Selain oleh oleh jumlah pendatang yang cukup banyak, biasanya keturunan penduduk setempat akan memilih tetap tinggal di kampung tersebut. Mereka akan menetap di rumah orang tua sehingga dalam sebuah rumah ada kemungkinan ditempati oleh lebih dari satu kepala keluarga. Kedua keadaan tersebut menjadikan kampung kota semakin padat jumlah penduduknya. Dengan semakin padatnya jumlah penduduk, kondisi kampung akan semakin timbul banyak masalah. Selain masalah pada tata ruang dan bangunan massa serta tingkat kebersihan lingkungan, masalah yang muncul adalah masalah kependudukan. Penduduk pendatang tidak semuanya memiliki kebiasaan baik, kebanyakan dari mereka akan mengalami perubahan kebiasaan setelah menetap lama di kampung kota. Biasanya mereka akan terpengaruh oleh budaya kerja yang terlalu keras di perkotaan sehingga muncul gangguan psikologis berupa stress. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka akan menghilangkannya dengan cara berkumpul bersama tetangga di area terbuka kampung sambil beristirahat. Karena kurangnya area terbuka di kampung, maka mereka akan memilih berkumpul bersama di sekitar jalanan kampung. Kegiatan ini, mereka lakukan pada tiap malam hari hingga larut atau menjelang dini hari.

Identifikasi Nama Jalan dan Kampung di Kawasan Pecinan Semarang setelah tahun 1740

Toponim yang paling awal di kawasan Pecinan terkait dengan penamaan kampung dan jalan-jalan utama, seperti  Gang Pekojan, Gang Warung, Gang Pinggir, Gang Beteng, Gang Kranggan. Sebutan “gang” di kawasan Pecinan dikenal sebagai sebutan untuk menyebut jalan-jalan yang yang ukurannya tidak terlalu luas. Kondisi “gang” saat ini  cukup lebar dan memadai sebagai sarana transportasi, berbeda dengan  kondisi awal pembetukannya.

Makna toponim di jalan-jalan utama kawasan Pecinan adalah sebagai berikut :

– Gang Beteng merupakan nama jalan yang berdekatan dengan benteng yang dibangun di kawasan Pecinan untuk keamanan masyarakat.

– Gang Kranggan merupan nama jalan yang terletak berdekatan dengan kawasan Pecinan. Nama “kranggan” berasal dari kata “rangga” yaitu salah satu sebutan pejabat pemerintah pribumi.  Selain itu “rangga” juga mempunyai arti sebagai pembuat keris.

– Gang Pekojan merupakan nama satu jalan di luar batas administratif kawasan Pecinan. Kata “pekojan” berasl dari kata “koja”, yaitu etnis Koja (India-Muslim)

Gang Pinggir merupakan sebutan masyarakat untuk jalan yang letaknya berada di posisi paling pinggir dari kawasan Pecinan. Gang Pinggir dahulu disebut sebagai Pecinan Wetan (Pecinan Timur) atau Tang-kee (di sinilah  Yayasan Penyelenggaraan Ilahi Indonesia Kantor Cabang Semarang berada)

– Nama jalan Gang Warung mengandung dua pengertian yaitu “gang” dan “warung”. Disebut Gang Warung karena sejak awal pembentukan kawasan Pecinan di jalan tersebut banyak warung-warung yang  dibangun oleh masyarakat. Sebelum namanya menjadi Gang Warung, masyarakat menyebutnya sebagai Pecinan Lor (Pecinan Utara) atau A-long-kee.

Setelah kawasan Pecinan semakin ramai dan penduduknya mulai membanun rumah-rumah di tengah kawasan, muncul jalan-jalan baru yang merupakan jalan level kedua yang merupakan jalan-jalan yang tidak terlalu luas dan  bukan sebagai akses jalan utama, yaitu jalan Gang Lombok, Gang Petudungan, Gang Baru, Gang Belakang, Gang Gambiran, Gang Tengah, Gang Besen). Makna toponim jalan-jalan kedua ini adalah sebagai berikut :

  • Gang Lombok mempunyai makna yaitu bahwa di tempat tersebut banyak tumbuhan lombok. Gang Lombok sebelumnya disebut Kang-kee.
  • Gang Petudungan, berasal dari kata “tudung” yaitu topi lebar yang terbuat dari bambu. Di tempat ini saat itu banyak diproduksi dan diperjual-belikan tudung.
  • Gang Baru mengandung arti bahwa jalan/daerah ini merupakan daerah yang baru dibangun. Sebelum populer dengan sebutan Gang Baru, masyarakat menyebutnya dengan Pecinan Kulon (Pecinan Barat) atau Sin-kee
  • Gang Belakang, mempunyai makna yaitu daerah yang terletak di bagian belakang kawasan. Sebelumnya masyarakat menyebut Gang Belakang Say-kee.
  • Gang Gambiran berasal dari kata “gambir” yaitu suatu bahan untuk penyamakan kulit. Daerah atau di lokasi jalan ini dahulu banyak terdapat gudang penyimpanan gambir. Dahulu masyarakat menyebutnya Ting Auw-kee
  • Gang Tengah, mempunyai makna bahwa letak daerah atau jalan ini berada di tengan kawasan Pecinan. Sebelumnya mayarakat menyebut Pecinan tengah dengan Kak Pan-kee
  • Gang Besen besasal dari kata “besi”, yang menunjukkan bahwa di daerah ini/jalan ini di perdagangkan alat-alat atau bahan besi.

Jalan-jalan yang ukurannya kecil (jalan level III) muncul setelah permukiman di kawasan Pecinan semakin padat. Jalan-jalan kecil tersebut adalah Gang Pasar Baru, Gang Mangkok, Gang Cilik, Gang Buntu, Gang Kali Kuping. Makna toponim jalan-jalan kecil ini adalah sebagai berikut :

  • Gang Pasar Baru, menunjukkan bahwa di daerah atau jalan tersebut terdapat pasar yang pembangunannya relatif baru.
  • Gang Mangkok, menunjukkan bahwa daerah/jalan tersebut bentuknya agak cekung menyerupai mangkok.Dahulu Gang Mangkok dikenal sebagai Oa-kee (oa berarti mangkok)
  • Gang Cilik, bersal dari kata “cilik” yang artinya kecil, sebagai penanda bahwa daerah atau jalan tersebut sangat kecil, pendek  dan sempit. Gang Cilik sebelumnya dikenal sebagai Hoay-kee
  • Gang Buntu, menunjukkan bahwa daerah/jalan ini tidak memiliki akses alternatif menuju ke daerah atau jalan lain.
  • Gang Kali Kuping, berasal dari kata “Khouw Ping’, yaitu nama seorang letnan Cina yang tinggal di daerah tersebut. Penyebutan Khouw Ping ini lama-kelamaan terdengar seperti sebutan “kuping”. Ada penafsiran lain dari nama “kuping’ yaitu letak daerah yang tertera pada peta seperti bentuk kuping atau telinga.

Kawasan Pecinan yang semakin dinamis menyebabkan permukiman masyarakat Cina meluas ke luar kawasan, yang pada akhirnya kampung-kampung di luar Pecinan ini memiliki ciri-ciri yang mirip dengan kawasan Pecinan. Daerah luar Pecinan antara lain Ambengan, Gabahan, Gandekan, Gareman, Gendingan, Jagalan, Jeruk Kingkit, Kapuran, Kentangan, Pedamaran, Pandean, Petolongan, Sayangan, Sebandaran, Wot Gandul dan sebagainya. Makna toponim daerah-daerah tersebut adalah sebagai  berikut :

  • Nama kampung Ambengan berasal dari kata “ambeng” yaitu tempat sajian makanan. Disebut sebagai kampung Ambengan karena dahulu di sana banyak diperdagangkan peralatan makan.
  • Nama kampung Gabahan berasal dari kata “gabah” yaitu padi kering. Masyarakat menyebut kampung Gabah karena didaerah tersebut menjadi gudang gabah dan tempat perdagangan gabah/padi
  • Nama kampung Gandekan berasal dari kata “gandek” yaitu perajin emas. Disebut demikian karena di daerah ini dahulu masyarakatnya banyak yang bekerja sebagai perajin emas
  • Nama kampung Gareman berasal dari kata “garam”. Dinamakan demikian karena di kampung/daerah tersebut terdapat gudang-gudang garam dan daerah ini menjadi tempat perdagangan garam.
  • Nama kampung Gendingan berasal dari kata “gending” yang bererti gamelan. Dahulu penduduk kampung ini banyak yang membuat gamelan.
  • Nama kampung Jagalan berasal dari kata “jagal” yaitu tempat pemotongan hewan/ternak. Di kampung ini dahulu terdapat tempat pemotongan hewan sehingga masyarakat menyebutnya denga  kampung Jagalan.
  • Nama kampung Jeruk Kingkit bermakna bahwa di kampung tersebut terdapat banyak tumbuhan jeruk  Kingkit.
  • Nama kampung Kapuran berasal dari kata “kapur” yaitu bahan untuk bangunan. Sebutan kampung Kapuran dipakai oleh masyarakat untuk menandai bahwa di daerah/kampung tersebut diperdagangkan kapur.
  • Nama kampung Kentangan berasal dari kata “kentang” . Dahulu di kampung ini terdapat kebun kentang yang cukup luas.
  • Nama kampung Pedamaran berasal dari kata “damar” yaitu sejenis bahan untuk mewarnai batik. Di daerah ini dahulu menjadi pusat perdagangan damar.
  • Nama kampung Pandean berasal dari kata “pande” yaitu orang yang pekerjaannya menempa besi. Nama kampung ini sebagai penanda bahwa di sana banyak penduduk yang bekerja sebagai pande besi.
  • Nama kampung Petolongan berasal dari kata “tolong” yang berarti talang air. Penduduk kampung ini bermata pencaharian membuat talang-talang air.
  • Nama kampung Sayangan berasal dari kata “sayang” yaitu perajin alat-alat rumah tangga. Dahulu di kampung ini banyak dibuat peralatan rumah tangga.
  • Nama kampung Sebandaran berasal dari kata bandar atau pachter. Disebut kampung atau jalan Sebandaran karena di lokasi tersebut pernah tinggal seorang syah bandar. Daerah /kampung Sebandaran sebelumnya dikenal sebagai Pecinan Kidul (Pecinan Selatan).
  • Nama Jalan Wot Gandul berasal dari kata “wot” yang berarti jembatan kecil dari kayu atau bambu dan “gandul” yang berarti gantung. Di daerah/jalan ini terdapat jembatan gantung yang menjadi akses lalu lintas dari wilayah timur dan barat Kali Semarang. Daerah/kampung ini dahulu dikenal sebagai Pecinan Kidul (Pecinan Selatan), juga  dikenal sebagai daerah Tjap Kauw King dan Tjien Hien –kee karena di daerah tersebut terdapat  sembilan belas petak rumah serta merupakan daerah yang makmur.

Selain nama jalan dan kampung, di kawasan Pecinan juga terdapat tempat-tempat  maupun bangunan yang namanya disesuaikan dengan kondisi alamiah maupun bentukan manusia seperti Bale Kambang, Kebon Dalem, Taman Hok Goan Wan, Gedung Gula, Kongkoan ( Kong Tik Soe), Kelenteng Sioe Hok Bio, Kelenteng Tek Hay Bio,Kelenteng Tay Kak Sie,Kelenteng Tong Pek Bio,Kelenteng Hoo Hok Bio,  Kelenteng Wie Wie Kiong, Kelenteng Liong Hok Bio, Kelenteng See Hoo Kiong. Makna dari nama-nama tempat tersebut di atas adalah :

  • Bale Kambang berasal dari kata dalam bahasa Jawa : bale, yang artinya rumah, dan kata kambang yang artinya mengapung. Jadi pengertian Bale Kambang adalah rumah di tengah telaga (Kamus Praktis Jawa-Indonesia, 2004). Untuk kawasan Pecinan Bale Kambang merupakan kolam yamg berada ditengah-tengah kawasan.
  • Kebon Dalem (Tong Wan) adalah nama daerah tempat tinggal pengusaha dan Kapten Cina Be Ing Tjoe yang berarti Kebun di Sebelah Timur.
  • Taman Hok Goan Wan adalah taman yang dibangun sangat indah di sekitar kelenteng Wie Wie Kiong
  • Gedung Gula adalah nama bangunan di Pecinan Kidul (Pecinan Selatan) yang difungsikan untuk gudang gula.Gedung Gula ini milik pengusaha Tan Tiang Tjhing. Di lokasi Gedung Gula terdapat kebun See Wan (Kebun di Sebelah Barat).
  • Kongkoan ( Kong Tik Soe) merupakan bagian dari kelenteng Tay Kak Sie yang dulu fungsinya sebagai rumah abu, sekolah, kantor Kong Koan dan penjara. Kong Tik Soe  dibangun pada tahun 1845.
  • Kelenteng Sioe Hok Bio merupakan kelenteng tertua  dan terkecil di kawasan Pecinan, dibangun pada tahun 1753. Kelenteng ini terletak di Jl. Wot Gandul Timur.
  • Kelenteng Tek Hay Bio (Kwee Lak Kwa) adalah kelenteng marga yang dibangun pada tahun 1756. Kelenteng ini terletak di Jl. Gang Pinggir
  • Kelenteng Tay Kak Sie merupakan kelenteng Budha yang terletak di Jl.Gang Lombok. Cikal bakal kelenteng Tay Kak Sie adalah kelenteng yang didirikan oleh masyarakat Cina di Pecinan Lor dan Pecinan Kulon  yaitu kelenteng Kwan Im Ting yang didirikan pada tahun 1746. Karena terjadi kerusuhan masyarakat di sekitar kelenteng pada tahun 1753 dan  lokasi kelenteng yang dianggap tidak memadai, maka pada tahun 1771 kelenteng  dipindahkan ke lokasi di pinggir kali Semarang yang berupa kebun lombok yang luas. Tempat ini dikenal masyarakat sebagai Gang Lombok. Kelenteng Tay Kak Sie  selesai dibangun tahun 1772 . Arti nama Tay Kak Sie  adalah Kuil/Kelenteng Kesadaran Agung.
  • Kelenteng Tong Pek Bio yang dibangun pada tahun 1782 atas prakarsa Letnan Khouw Ping. Keleteng ini terletak di Jl.Gang Pinggir. Makna Tong Pek Bio adalah rumah ibadah di jalan sebelah timur.
  • Kelenteng Hoo Hok Bio adalah kelenteng Tao yang dibangun pada tahun 1792, terletak di gang Cilik.
  • Kelenteng Liong Hok Bio merupakan kelenteng Tao  yang dibangun pada tahun 1866, terletak di Jl.Gang Pinggir.
  • Kelenteng  Wie Wie Kiong merupakan kelenteng Tao dan kelenteng marga Tan yang dibangun tahun 1814. Kelenteng ini terletak di Jl.Sebandaran
  • Kelenteng See Hoo Kiong merupakan kelenteng marga Liem yang dibangun pada tahun 1881 dan terletak di daerah Sebandaran

Dengan kekhasan yang menyertai keberadaan sekolah-sekolah Kebon Dalem, mulai dari TK hingga SMA, tak berlebihan bila 22 Januari 2013 ini adalah peringatan 75 tahun perjalanannya (baca: karya misi para suster Penyelenggaraan Ilahi) menjadi bagian penting bagi sejarah kota Semarang.

Para Suster sungguh dipanggil Allah di tempat yang khas dengan kekayaan keberagaman yang tak ternilai.

Semoga tetap menjadi tanda istimewa bagi masyarakat sekitar, kota Semarang, dan tentu negeri ini.

Source :  dari berbagai sumber

 

 

 

 

 

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top